Tadi (minggu, 7 sept08, pkl 12.10) gw sempat dengar berita siang di salah satu stasiun TV milik pak Harry Tanu.. tentang kebijakan pemerintah Malaysia membatasi peredaran lagu/musik asing. Entah apalah maksud pemerintah Malaysia dengan mengeluarkan kebijakannya membatasi lagu asing (termasuk Indonesia) diputar di media elektronika di negaranya. Malaysia membatasi hanya 10% lagu asing yang boleh diputar di media elektronika, sementara 90% sisanya harus lagu asli Malaysia/lagu dalam negeri. Mungkin inilah salah satu cara Malaysia untuk mempertahankan “kebudayaannnya” mengingat kebudayaan Malaysia bisa dibilang sangatlah minim. Tidaklah heran hal ini terjadi karena banyak pula penduduk Malaysia yang merupakan pendatang/ras campuran, atau penduduk asli tetapi sudah tidak mengetahui kebudayaannya sendiri sehingga sangat sedikit sekali yang mengetahui apa-apa saja kebudayaan asli negaranya. Mungkin, hal ini pula yang mendorong pemerintahnya bersemangat mengambil cara-cara yang kurang beretika, yaitu dengan meng-claim beberapa kebudayaan dari luar negerinya diakui sebagai kebudayaan negeri sendiri.
Namun, pemerintah sana harus ingat tentang isu globalisasi. Sangat tidak cocok kebijakan pembatasan tersebut dilakukan sementara arus globalisasi semakin besar. Ditambah lagi, justru warga Malaysia banyak yang menjadi konsumen lagu dari Indonesia (luar negeri–red). Jika negara tersebut tidak bisa mengikuti perkembangan dunia, maka dia akan tersingkir dari persaingan, tetapi di sisi lain, pemerintah sana juga pasti berupaya mempertahankan “sedikit” budayanya yang tersisa agar tidak terhapus zaman.
Kalau dilihat lagi, sepertinya pemerintah sedang makan buah simalakama dan harus berusaha keras “memnuntahkan” buah tersebut dari dalam dirinya. Kebijakannya yang sering claim budaya-budaya orang lain ditambah lagi dengan pembatasan lagu sing ini mungkin sebuah kekalapan pemerintah Malaysia yang menyadari budayanya mulai terkikis dan tidak bisa direstorasi lagi. Mungkin ini juga sebuah taktik dari suatu negara untuk membangun pertahanan menghadapi globalisasi namun dengan cara yang terbilang kalap.