Kemarin (27 Maret 2015) ada berita cukup hingar-bingar di dunia maya tentang salah satu selebritis Indonesia. Yupss.. siapa lagi kalau bukan… Kepolisian. (hayo ngaku, tadi ada yang udah nebaknya alm. Olga Syahputra kan.. sayang sekali, saya lagi tidak membahas doi.). Yups, kalau selebritis itu sudah mengalami pergeseran kata menjadi orang suka tampil di televisi, nampaknya Polisi sekarang sudah cukup syaratnya. Tuh, coba lihat saja setiap hari di .Net TV pukul 21.00-21.30 ada acara khusus mengupas tentang kegiatan sehari-hari kepolisian RI. Tidak kawan, bukan dia yg mau dibahas, tapi saya mau sedikit komentarin aja tentang penilangan supir busway akibat menabrak pengendara sepeda motor (motor) di jalur busway. Kabarnya lagi yang saya dapatkan per hari ini, si pengendara motor ini tu polisi juga. Wahh… konco dong kalian. Tapi mungkin saking setia kawannya kali ya, konco salah aja dibela2in.

Ada beberapa hal yang membuat saya jadi gemas setelah menonton video hasil citizen journalism tentang hal tsb. , yaitu:

  1. Si pengendara motor berkata kepada penumpang busway, “maaf, bapak2 dan ibu2, saya roda dua, dan dia roda 4…….” (kurang lebih seperti itu intinya).
  2. Polisi yang menilang pengemudi busway berkata, “……Saya berhak……”. Kondisi waktu dipanas2in sama penumpang karena doi salah (dan udah jelas salah) menilang.

Untuk yang pertama, saya sering banget nih ketemu paham entah dari aliran mana yang menganut kalau motor ditabrak mobil, atau yang lebih besar daripada itu, maka yang salah tu yang lebih besar. Ya, mudah2an aja kalian para pengendara motor ndableg (saya singkat aja jadi “pengondeg” seperti itu masih bisa menyalahkan kereta juga kalau motor kalian ditabrak kereta api karena kalian melanggar rambu2 perkeretaapian (spt. Menerobos lintasan, padahal udah ada sinyal isyarat kereta akan lewat). Koq kayaknya keenakan banget, dan malah jadi ngelunjak ya si pengondeg itu bisa seenaknya di jalan raya. Padahal di UU udah dibilang, setiap pengendara (ga peduli mau roda berapapun, mau itu roda separoh juga) harus mematuhi peraturan lalu lintas. Nah, dalam kasus ini, udah jelas jalur busway itu khusus busway, tapi koq masih dilanggar? Udah gitu, pas kejadian kecelakaan kayak di atas, eh, malah yang salah yang ngotot marah-marah.. kayak anak kecil aja.

Lalu, yang kedua, saya melihat ada dua hal juga di sini yang disalahgunakan. Pertama, si plokis tsb menyalahgunakan wewenangnya dia, lalu yang kedua, si plokis tsb mngkin dulu waktu sekolah keblinger belajar PPKn-nya sehingga solidaritas sesame teman pun ga disaring dulu mana batas-batasnya. Kalau emang kalian mau solider, koq waktu ada polisi yang nyemplung sumur, menembak diri untuk bub=nuh diri, kalian ga ikut2an juga sih?

Kalau mau tegas tegakkan hukum, ya simple seperti biasa aja (walau pun pasti susah untuk berbuat yang simple ini): pengemudi motor patuhi lalu lintas, dan polisi patuhi wewenangnya dalam bekerja professional. Ga usah sok-sok an bikin sensasi lah. Kasihan teman2 kalian yang jadi orang benar, kena imbasnya. Trs juga, dampak citra pengendara motor kan jadi jelek juga. Terus, saya yang udah mati2an mematuhi semua kelengkapan dan peraturan jalan raya dalam mengendarai motor dapat imbas dari orang2 kayak gini? Wah, saya ga rela bung. Terus, saya harus melapor ke siapa? Polisi kah? Lah wong polisinya juga belain konco gtu modelnya sekarang. Jangan harap deh dapat pemimpin yang baik kalau rakyatnya aja masih ndableg-ndableg bgini. Sahabat Rosul Ali ibn Abi Tholib r.a. berkata “hati rakyat adalah wadah pemimpinnya”. Tuh, ada hubungannya kan kalau pemimpin itu tergantung dari mental/kelakuan/adat rakyatnya.

CMIIW.🙂