Hari ini di media sosial dan media massa kembali ramai dengan ucapan dan kata-kata mutiara yang gembar-gembor dituliskan atau diingatkan dalam setahun sekali. Ada peristiwa apakah dengan hari ini? Ya. Hari ini 2 Mei 2015 adalah Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), setelah kemarin 1 Mei rakyat Indonesia memperingati Hari Buruh Nasional, maka pada hari ini, perhatian kita tertuju kepada pendidikan Indonesia. Dipilihnya tanggal 2 Mei ini bukannya tanpa sebab, tapi ini merupakan tanggal dan bulan lahirnya bapak Soewardi Soerjaningrat (atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara). Beliau dinobatkan oleh pemerintah kita sebagai bapak pendidikan nasional. Sudah berkali-kali kita memperingati Hardiknas ini, dan sudah akan menuju 70 tahun usia kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, mengapa keluaran (output) dari system pendidikan kita ini tidak kunjung membaik, dan bahkan cenderung menurun. Padahal, kemajuan teknologi telah masuk di tengah-tengah para pemuda kita yang semestinya sistem pendidikan itu bisa semakin mudah menjangkau seluruh warga Indonesia dan terkoordinasi dengan baik.

Sistem pendidikan di Indonesia sejak zaman orde baru telah mengalami beberapa kali penyesuaian. Dimulai dari kurikulum 1974, lalu berubah menjadi kurikulum 1994, kemudian dilengkapi dengan kurikulum 1994 CBSA ( Cara Belajar Siswa Aktif), setelah itu pada kurikulum 1999 menyempurnakan kurikulum sebelumnya, dan masih belum puas juga kemudian diolah lagi menjadi kurikulum 2003 KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Tidak berhenti sampai di situ, kurikulum 2009 dihadirkan untuk menghadapi era digital, yang mana kemudian disempurnakan lagi di kurikulum 2013 yang hanya bertahan 1 tahun karena dinilai nyeleneh. Kemudian berganti lagi menjadi kurikulum 2014 berbasiskan “topik”. Jadi, pada kurikulum baru ini, pelajaran disajikan berdasarkan “topik” yang sedang dibahas. Misalnya, tentang Berlibur ke rumah nenek. Nanti semua yang terkait dengan liburan tersebut, akan dibahas. IPA yang terlihat, seperti mekanika di mobil yang ditumpangi; lalu PKn yang dibahas seperti tentang tatakrama ketika di desa atau selama menyetir di perjalanan; lalu matematika-nya bisa berupa tentang hubungan jarak tempuh, waktu, dan kecepatan kendaraan yang dipakai liburan; agama-nya bisa berupa bagaimana melakukan ibadah etika di perjalanan. Entahlah, apa seperti itu pada pelaksanaannya, saya hanya mendapatkan info dari beberapa wali siswa atau saudara yang anaknya kini sedang bersekolah di sekolah dasar.

Terlepas dari apa isi kurikulum pendidikan yang terus menerus disempurnakan oleh pemerintah, saya ingin sedikit menyoroti tentang begitu seringnya kurikulum tersebut berganti. Hal ini, menurut saya terindikasi bahwa sampai saat ini penyelenggara pendidikan di Indonseia masih belum mempunyai goal utama (main target) yang berisi tentang apa visi utama jangka panjang output dari pendidikan tersebut. Bagaikan sebuah perundang-undangan, mengapa paada UUD dibuat lebih umum daripada aturan-aturan di bawahnya, hal itu dikarenkan UUD sebagai dasar/ peganganutama dari konsep aturan berbangsa dan bernegara Indonseia. Selain itu, jika UUD dibuat spesifik, maka produk hokum tersebut tidak akan bertahan lama. Berbdea dengan aturan-aturan di bawahnya yang dibuat lebih spesifik karena terkait dengan kegiatan pada waktu tertentu saja dan bukan untuk jangka waktu yang lama. Kembali kepaa kurikulum pendidikan, analogy produk hokum di atas bias dijadikan “contoh” bagaimana membuat silabus utama agar jangan cepat berganti-ganti. Tentunya pada silabus tersebut harus ada visi besar yang umum dan terarah sebagai petunjuk/acuan (guidance) membuat turunannya berupa kurikulum pendidikan yang lebih awet untuk jangka beberapa tahun. Kita bisa mencontoh bagaimana awetnya kurikulum 1974 yang baru diganti di tahun 1994. Selama 20 tahun itu tentunya sudah disiapkan master plan ke arah bagaimana insan-insan muda Indonesia ini diarahkan pemerintah dalam hasil pendidikannya. Jikalau ada yang berubah, tidak perlu kurikulumnya, tapi cukup dituangkan dalam juklak dan juknis-nya saja. Hal ini membawa banyak dampak positif, terutama untuk pendidikan dasar kita, antara lain, buku-buku pelajaran bisa diturunkan dari kakak kelas kepada adik-adiknya yang di bawahnya, lalu orang tua juga tidak bingun dengan apa yang akan mereka ajarkan di rumah yang sinkron dengan pelajaran di sekolah. Selanjutnya, monitoring kualitas kurikulum dapat lebih terarah karena akan lebih optimal menevaluasi dan memperbaiki sedikit-sedikit suatu produk (dalam hal ini kurikulum) daripada langsung melakukan langkah “radikal” mengubah kurikulum ketika kurikulum yang lama ditemukan kekurangannya.

Semoga Hardiknas 2015 kali ini bisa menjadi momentum Indonesia untuk lebih memperhatikan dan meningkatkan kualitas pendidikan bangsa menjadi jauh lebih baik, baik aksi tersebut berasal dari pemerintah maupun dari peran aktif masyarakatnya sendiri. Bangsa Indonesia mesti memperhatikan komoditas yang satu ini, karena pendidikan merupakan aset dan investasi suatu bangsa; berupa aset karena nilainya yang tidak mudah susut (bahkan cenderung bertambah nilainya), dan merupakan investasi karena hasilnya baru bisa dilihat dalam jangka panjang.

SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL, REPUBLIK INDONESIA, tahun 2015🙂