Bagi yang pernah berurusan dengan aplikasi permohonan produk bank pasti pernah menemukan isian berupa nama gadis ibu kandung. Ada apa di balik itu sehingga bank terkesan sampai menanyakan data yang “ga penting” atau “kepo banget” bagi sebagian orang menilainya?

Nama gadis ibu kandung (Mother Maiden Name–MMN) sekarang selalu ditanyakan pada formulir aplikasi perbankan, seperti pengajuan pembukaan rekening baru, pengajuan kartu kredit, ataupun pembiayaan. Mungkin ada sebagian yang penasaran mengapa bank membutuhkan nama ibu kandung tersebut.

Dugaan saya, hal tersebut digunakan sebagai verifikasi nasabahnya. Beruntung dugaan saya juga sesuai dengan beberapa pendapat dari para bank officer di forum-forum digital yang pernah saya ikuti. Nama gadis ibu kandung digunakan sebagai “super password” otentikasi user karena bagi seseorang hampir tidak pernah lupa dengan nama ibu kandungnya sendiri dan bagi orang lain, hampir tidak pernah tahu nama gadis ibu kandung seseorang. Biasanya, ibu kita lebih dikenal di lingkungan tetangga itu dengan nama suami (nama bapak kita), semisal ibu Paijo (nama suaminya si ibu itu pak Paijo), atau malah dipanggil dengan nama anaknya sendiri, misalnya ibu Budi (nama anaknya “Budi”, jadi ini tu ibunya si Budi).

Lalu, kenapa tidak dengan menggunakan nama perjaka bapak kandung? Hal ini bisa jadi karena nama bapak yang dikenal di masyarakat cenderung sama saat masih bujang dengan saat sudah beranak pinak (atau beristri-pinak😀 ). Selain itu, seseorang pasti lahir ke dunia ini melalui perantara ibu kandung sehingga pasti memiliki ibu kandung. Di sisi lain, adakalanya terdapat oknum bapak kandung yang tidak bertanggung jawab atau “lari” dari keluarga mencari “kembang” di pot tetangga sebelah yang lebih segar ini menjadi pertimbangan juga karena mungkin saja anak lahir tidak mengetahui bapak kandungnya sendiri disebabkan hal tersebut tadi. Seorang ibu cenderung lebih dekat di hati anak-anaknya, di manapun itu, dan senakal-nakalnya anak-anaknya tersebut sehingga logikanya, nama gadis ibu kandung ini akan lebih terpatri di diri seseorang daripada nama bapaknya.

Kemudian, kapan/ di mana digunakan super password tersebut? Otentikasi dengan MMN ini sepengetahuan saya, digunakan antara lain saat verifikasi customer service, laporan kehilangan, atau blokir aplikasi. Jadi, jagalah baik-baik nama baik orang tua kita, terutama nama ibu agar tidak tercemar, baik itu tercemar nama baiknya ataupun tercemar karena penyalahgunaan data perbankan.

Lantas, bagi pria yang menjadi dan atau akan menjadi bapak, jangan berkecil hati nama Anda “tidak laku” untuk urusan otentikasi data karena bukan berarti bapak kandung tidak pernah digunakan juga untuk “verifikasi” data. Setidaknya, nama bapak digunakan pada waktu ada insiden anak kecil yang sedang berkelahi (berantem). Anak yang nangisin lawan kelahinya (biasanya yang menangis tu yang kalah berantem) cenderung ditanya oleh orang sekitar dengan celetukan kurang lebih begini: “Siapa bokap lu?!”.